Mari Ikutan Arsitek Beramal -bersama Desain Griya

Banyak masyarakat yang memerlukan tenaga dan pikiran kita. Mereka masih menganggap bahwa jasa arsitek “mahal” dan hanya untuk kalangan tertentu saja sehingga enggan dan takut untuk menghubungi seorang arsitek. Padahal dengan tenaga kita, rumah mereka bisa diusahakan lebih nyaman, sehat dan indah.
Beberapa klien masih menganggap jasa kita hanya dinilai dari kertas-kertas yang kita berikan. Maafkanlah mereka, karena sebenarnya mereka belum mengerti benar peran kita. Hanya perlu sedikit pengerahan dan penjelasan yang tulus, Insya Alloh mereka lebih menghargai kita sebagai arsitek.
Berbagi adalah ibadah/ sodaqoh meski itu tidak tentu dibalas dengan harga. Yang jelas balasan Allah swt lebih pasti, betul? :)
Berangkat dari pemikiran diatas kami Desain Griya mengajak teman-teman ikut berpartisipasi menyumbangkan pemikiran dan ide bagi masyarakat yang masih banyak membutuhkan tenaga arsitek. Keikutsertaan disini bersifat suka rela tetapi tetap bertanggung jawab.

Continue reading

‎100 ARCHINESIA BOOKGAZINE UNTUK 100 PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS

Mohon disebarkan…
Dengan diterbitkannya ARCHINESIA Bookgazine*), kami bermaksud ingin memberikan 100 eksemplar ARCHINESIA bookgazine ini kepada 100 Perpustakaan Jurusan Arsitektur di Universitas di seluruh Indonesia. Adapun maksud dari pemberilan ini sebagai bagian dari program edukasi IMAJI Publishing kepada mahasiswa arsitektur Indonesia.
ARCHINESIA Bookgazine edisi perdana ini mengambil tema “Architectural Award, Exhibition dan Competition”. Dalam rangka itu, Archinesia telah mengadakan diskusi yang melibatkan 11 arsitek praktisi, akademisi, dan organisasi, yang memiliki banyak pengalaman, khususnya dalam berkompetisi/sayembara arsitektur. Diskusi yang juga dihadiri dua ketua IAI ini, menjelaskan seluk beluk pelaksanaan sayembara arsitektur serta memberikan kabar baik; peraturan baru tentang terbukanya peluang melakukan sayembara desain untuk bangunan pemerintah.

Selain itu, beberapa arsitek praktisi lain yang telah mengikuti sayembara sejak dibangku kuliah hingga kinidan telah banyak memenangkan sayembara juga ikut berbagi wawasan tentang pentingnya mengikuti sayembara, serta dilengkapi tips tips mengikuti sayembara yang menjadi alat bantu untuk memajukan sebuah biro arsitektur. Edisi ARCHINESIA BOOKGAZINE kali ini juga mengulas event arsitektur penting seperti IAI Nasional Award, dan berita tentang pemenang sayembara Nasional “Perluasan Museum Nasional” November 2011 lalu.

Continue reading

TUKANG

‘Siapa yang membangun tujuh gerbang Thebes?’

Bertholt Brecht bertanya, bersedih atas hilangnya

kuli-kuli dan tukang batu

dari lembar buku-buku sejarah.[1]

 

Tukang adalah unsur yang “hilang”.  Tak seorang pun bertanya, seperti Brecht, kemana mereka semua pergi setelah dinding-dinding itu berdiri, setelah arsitektur itu ada.

 

Mungkin karena mereka datang dalam gelombang himpunan. Himpunan tukang batu, himpunan tukang kayu, himpunan tukang listrik, tukang cat, tukang plafond, tukang AC, dan lain-lain. Dalam himpunan itu, individu “hilang” nama. Tiap anggota bisa digantikan oleh anggota lain, dengan kriteria yang sama. Tukang-tukang itu lalu menjadi sekedar angka. Grup tukang batu 10 orang. Grup tukang kayu 7 orang. Grup tukang listrik 4 orang. Dan seterusnya, dan seterusnya. Kita, para arsitek, hanya kenal mandor atau kepala tukang yang bertanggung jawab atas himpunan tersebut.

 

Mungkin juga karena kita hanya melihat hasil, bukan tangan-tangan yang bekerja menghasilkannya. Para arsitek akan dengan cermat memeriksa apakah pondasi satu bangunan kuat menanggung beban di atasnya. Tapi tukang-tukang batu akan terkubur bersama lajur-lajur dan pancang beton, jauh di bawah tanah. Dengan kritis kita mengamati detail pekerjaan kosen pintu beserta daunnya, dan menuntut penyelesaian yang sempurna tanpa cacat, sembari tak peduli bahwa di balik pelitur dan cat kayu ada keringat yang tersembunyi di antara urat dan retakan kayu.

Continue reading

Rumah Mungil nan ber-Estetika part 3

SIMPLE, MODERN & MINIMALIS

RUMAH TIPE 36 (Anisza Ratnasari, ST)


Konsep dasar rumah yang modern & minimalis ditampilkan melalui desain yang simple serta pemakaian material yang ’ringan’.  Meskipun luas bangunan hanya 36m2 di atas kavling 6 x 15 m, dengan penataan ruang yang optimal mampu mengakomodir kebutuhan ruang bagi keluarga kecil. Yaiutu : 2 ruang tidar, ruang utama, ruang makan & kamar mandi.

CHIC DENGAN AKSEN MERAH

RUMAH TIPE 42 (Anisza Ratnasari, ST)

Lahan sempit tidak menjadi masalah bagi para arsitek untuk berkreasi. Terbukti dari  rumah mungil seluas 42m2 yang berdiri diatas kavling 7 x 15 m, perancang bisa mengkombinasikankan antara material, warna dan desain dengan apik. Kombinasi garis-garis horizontal tegas yang tercipta dari tatanan batu susun sirih sangat match dkombinasikan dengan aplikasi beton dengan finishing cat tembok merah menyala.

Dibagian lain, fasad dihasilkan dari finishing semen kasar dengan pola horizontal juga. Sebagai pembatas dengan kavling milik tetangga, disebelah kiri bangunan yang sedianya berupa dinding tembok setinggi ½ m, berdiri sebuah ’pembatas’ berbentuk letter T dengan warna dan matreial yang dikombinasikan dengan rumah disekitarnya.

Continue reading

Rumah Mungil nan ber-Estetika part 2

Posting kali ini akan menampilkan alternatif desain lain untuk rumah mungil..semoga menambah referensi bagi pembaca untuk desain rumah.

Minimalis House

Rumah tipe 36(I Nyoman Sunartha, ST)

Bentuk dan dimensi layout memiliki potensi yang memberikan sentuhan kesederhanaan desain. Permainan bentuk jendela selain mempercantik tampilan rumah juga memberikan pencahayaan alami pada ruang di dalamnya. Cahaya alami bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan rumah, terutama siang hari. Karena tak perlu lagi menyalakan lampu pada siang hari maka otomatis menghemat pemakaian listrik pada hunian

Contemporer House

Rumah Tipe 40

Rumah bertipe kecil belum tentu tidak dapat diolah dari sisi arsitektur ataupun fasadenya. Konsep fasade pada rumah tipe 40 ini adalah permainan motif batu alam. Rumah yang menghadap arah terbit dan tenggelamnya matahari di siasati dengan pengolahan dinding pada teras sehingga tercipta bayangan sehingga ruangan di dalam tidak panas akibat dari efek sinar matahari. Selain itu maksud dari pemberian elemen batu alam yaitu batu candi akan memberikan kesan dingin dan bersahabat pada lingkungan.

Kolom pagar juga menggunakan susunan batu andesit agar tampak menyatu dengan bagunannya selain itu memberikan efek tekstur yang indah jika diberi lampu spotlight. Image hunian tengah kota yang sejuk, sekaligus modern.

Menyiasati penggunaan lahan yang terbatas untuk membangun hunian menjadi tantangan yang banyak dihadapi oleh seorang arsitek maupun desainer interior. Dalam mendesain lahan yang terbatas ini ingin menunjukkan sisi kreasi desain namun juga mampu mengekspresikan gaya hidup dan kebutuhan ruang pemilik rumah.

Art House

Rumah tipe 45(I Nyoman Sunartha, ST)

Desain simpel tanpa artikulasi material beragam cukup optimal untuk menghadirkan ekspresi minimalis-modern. Tatanan batu susun sirih pada dinding luar kamar tidur yang dipadukan kaca tanpa bingkai memberikan pencahayaan alami namun dengan cara yang tidak seperti pada jendela pada umumnya. Aksen dinding dari bahan metal berwarna merah yang diberi lampu backlight menjadikan dinding lebih berkesan estetis sebagai vocal point. Nuansa warna putih dan abu-abu serta pemakaian batu alam memberikan kesan dingin pada hunian.

Bukaan kaca pada dinding kamar tetap memperhatikan panas sinar matahari yang masuk, karena desain bukaan kaca tersebut tetap ternaungi oleh teritisan yang cukup panjang untuk menghindari panas matahari berlebih. Elemen yang menonjol pada hunian ini adalah bentuk pilar yang tidak seperti pada umumnya sebuah pilar yang dipadukan dengan motif garis.

halaman berikutnya

Rumah Mungil nan ber-Estetika part 1

Siapa bilang rumah mungil susah untuk di ekspolore lebih dalam agar terlihat indah. Siapa bilang karena keterbatasan lahan maka aspek keindahan diabaikan. berikut sumbangsih contoh-contoh desain karya 4linked Architect yang mungkin bisa memberi inspirasi bagi pembaca yang mempunyai lahan atau ingin membangun rumah yang kecil namun tetap terlihat indah jika dilihat


MODERN MINIMALIS

Rumah type 36 (Yansen Oktanius, ST)

Konsep modern minimalis diterapkan pada fasade rumah type 36 ini. Penerapan konsep modern minimalis yang tidak banyak mengusung ornamen, memberikan kesan simpel namun estetis di tengah lahan yang tidak terlalu besar.

Untuk pemilihan warna pada fasade rumah yang tidak terlalu lebar dalam hal ini hanya sepanjang 6 meter, sebaiknya dipilih warna-warna netral seperti abu-abu dan putih  yang memberikan kesan bersih. Warna merah pada border jendela dan pada pilar depan hadir sebagai point of interest pada tatanan fasade rumah ini.

Pemberian tekstur garis horizontal pada dinding depan serta pada pilar memperkuat kesan modern minimalis. Penggunaan garis-garis horizontal sebagai tekstur pada fasade rumah ini juga berfungsi untuk memberikan kesan yang lebih ‘lebar’ pada fasade yang sempit.

Penggunaan material yang sederhana seperti beton sisir dengan finising cat warna abu-abu pada pilar depan memberikan hasil yang maksimal pada tampilan fasade namun tetap ekonomis.


INTROVERT FASADE

Rumah type 45 (Yansen Oktanius, ST)

Konsep desain yang diterapkan pada fasade rumah ini masih membawa spirit kontemporer / kekinian, dengan mengusung bentu-bentuk geometris sederhana. Pintu masuk utama sengaja dibuat agak tersembunyi. Posisinya yang tidak berhadapan langsung dengan jalan utama serta ditambah dengan deretan kolom-kolom yang menutupinya menjadikan rumah ini berkesan lebih introvet atau tertutup. Dinding depan dengan sedikit bukaan pada area entrance memperkuat kesan introvet rumah. Hal ini bertujuan untuk memberikan privasi tersendiri bagi penghuni rumah. Selain itu bentukan entrance yang demikian membuat ruang dalam menjadi lebih luas.

Permainan warna natural pada fasade rumah ini seperti kombinasi warna-warna kayu dan coklat dengan warna-warna netral (putih, abu-abu) memberikan kesan hangat pada fasade rumah.

Unsur estetik pada fasade dibentuk melalui permainan warna dan permainan garis baik itu horizontal (pada dinding depan) maupun vertikal (melalui deretan kolom-kolom) yang sekaligus memperkuat kesan kontemporer.

UNIQUELY HOOK

Rumah type 50 pojok (Yansen Oktanius, ST)

Rumah type hook atau pojok memiliki potensi lebih, dalam hal desain, karena memiliki dua fasade untuk didesain. Inilah yang coba diterapkan dalam desain rumah ini. Ide kali ini adalah membuat fasade dari atap dan dinding yang menyatu. Pada salah satu fasadenya, atap dibuat dengan kemiringan tertentu yang kemudian diteruskan ke bawah dan menjadi bagian dinding pada fasade depan rumah. Kemudian diberi bidang vertikal dengan warna merah sebagai penanda entrance utama bangunan. Posisi rumah type hook ini memungkinkan adanya pemisahan entrance antara entrance utama dan side entrance pada fasade bangunan yang lain. Hal ini memudahkan dalam pendaerahan ruang dalam rumah berdasarkan aktivitas penghuni.

Sedangkan sudut bangunan rumah didesain berbentuk geometri balok dengan jendela sudut dan dindingnya dibuat bertekstur garis horizontal. Pada bagian ini berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Dengan lahan yang tidak terlalu luas, area kamar mandi dibuat menonjol dari massa bangunan serta diberi aksen pilar-pilar. Dinding kamar mandi yang menonjol pun dibuat miring dengan finishing kaca pada pertemuan atap dan dinding. Ini memberikan sensasi outdoor pada kamar mandi.

halaman berikutnya