Architects Under Big 3 #10 The Story Behind

[Post Event Release] Architects Under Big 3 #10 The Story Behind…

Tim yang kompak

Jumat di awal bulan Februari 4 orang arsitek muda; Laksana Eka Semarajana
Putra, Bagus Samsu Hartanto, Ricky Sandra Hartantyo dan Dondiet Sigit
Prabowo berbagi cerita tentang pengalaman mereka mengikuti sayembara
arsitektur. Tampak hadir Ibu Mardiana Ika, *fashion designer* kenamaan di
tengah audiens.

Kegemaran mengikuti sayembara dimulai dari kebosanan akan rutinitas yang
mereka rasakan datar-datar saja, darah muda mereka menginginkan tantangan.

Mengikuti sayembara merupakan hal yang menyenangkan. Dalam sayembara, mereka
berkesempatan untuk mengasah kemampuan, mengenal dunia arsitektur yang lebih
luas, membangun relasi dengan rekan seprofesi, *travellin*g, membuat
portofolio yang baik dan merupakan suatu kebanggaan apabila mereka berhasil
memenangkan suatu sayembara.

Dalam sayembara mereka mendapatkan kebebasan untuk menuangkan ide-ide dan
pemikiran. Menjadikan segala hal menjadi mungkin untuk menjadi dasaran
sebuah konsep arsitektur.

Sayembara selalu mereka lakukan dalam tim. Seperti yang juga dipertanyakan
oleh salah satu audience malam itu, mereka menceritakan bahwa proses paling
penting adalah pada tahap *brand storming*. Dimana semua ide dikemukakan,
didiskusikan, menekan ego, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan terbaik,
dan mendengarkan pendapat orang lain menjadi sangat penting. Sebuah
kemampuan bekerja sama dalam tim mereka kerahkan sebaik mungkin disini.

Pada edisi ke-10 Architects Under Big 3,  mereka mempresentasikan beberapa
pengalaman mereka dalam mengikuti sayembara arsitektur. Dimana setiap karya
nya memiliki kisahnya masing-masing, Sayembara Taman Awi Panglipuran (juara
1), Sayembara Perpusnas (peserta), Sayembara Bangka Belitung Eco Park (juara
1) dan Sayembara Monumen Situ Gintung (juara III).

*Sayembara Taman Awi Panglipuran (Juara I )*

Sayembara ini lah yang mengawali pertemuan keempat arsitek muda yang saat
ini bergabung dalam Frangipani6 Design Studio.

Sayembara ini diadakan oleh Kota Baru Parahyangan, Green Design Community
dan Majalah Asri. Sayembara Taman Awi dibagi dalam dua (2) tahap dengan lima
(5) nominator. Material bambu menjadi ide dasar mereka dalam eksplorasi ide.
Sifat bambu yang fleksibel, sustainable, ramah lingkungan dan ekonomis
menjadi suatu kelebihan tersendiri terlebih material bambu berkaitan dengan
konteks lokal Sunda. Dari eksplorasi tersebut lahirlah gagasan bamboo in *open
space*.

Sayembara perdana yang mereka ikuti bersama ini akhirnya menjadi juara I.

Display Presentasi AUB3 #10

* *

*Sayembara Monumen Situ Gintung ( Juara III )*

Sayembara ini tercetus atas dasar tragedi Situ Gintung yang terjadi pada 27
Maret 2009. Pemerintah berinisiatif membangun monumen & menata kawasan yang
rusak. Maka pemerintah setempat bekerja sama dengan IAI Banten mengadakan
Sayembara Penataan Kawasan Situ Gintung. Sayembara satu tahap ini ditujukan
untuk penataan kawasan saluran pembungan sepanjang 1km.

Eksplorasi desain dimulai dari memahami tentang sifat air sebagai lakon
utama penyebab utama tragedi tersebut (disamping human eror). Air dapat
berfungsi sebagai pencipta kehidupan dan juga sebagai perusak (protagonis
atau antagonis). Desain yang ingin diciptakan adalah desain yang menumbuhkan
harapan setelah terjadinya tragedi.

Konsep dasar ini dikembangkan dalam eksplorasi desain dengan konsep gerakan
air. Tragedi tumpahnya Air Situ Gintung ditransformasikan ke dalam bentuk
monumen dengan bentuk Kristal air sebagai konsep denah awal monumen.
Pencitraan monumen diambil dari bentuk percikan air yang melambangkan
dahsyatnya bencana Situ Gintung yang disebabkan oleh pemberontakan air.  Di
tengah-tengahnya terdapat tiang tinggi menjulang berwarna kuning yang
melambangkan harapan untuk menata kehidupan yang lebih baik. Monumen ini
sebagai penanda asal mula tragedy Situ Gintung, mengarahkan pengunjung untuk
melihat langsung bekas tanggul yang jebol.

Disekitar monumen dibangun zona rekreasi dan konservasi (bantaran). Sifat
protagonist air merupakan konsep dasar dari penciptaan bantaran. Desain
direfleksikan dengan kontur (air) menopang kehidupan. Bantaran dibuat dengan
kontur berbukit-bukit mengambil konsep aliran air yang bergelombang dengan
makhluk hidup yang berdiri di atasnya sebagai tanda kehidupan.

Di sepanjang bantaran sungai dibangun hutam buatan sebagai salah satu upaya
konservasi lingkungan, memberikan porsi ‘wildlife’ kepada kawasan agar
makhluk hidup yang lain juga memiliki ‘rumah’ untuk tinggal. Di sana juga
dibangun *Open Lawn* yang difungsikan sebagai area rekreasi keluarga
(multifungsi), dilengkapi dengan bangku taman, drinking fountain dan
berbagai permainan interaktif dan edukatif. Dibangun pula jakur inspeksi
menggunakan material grass block untuk mengurangi perkerasan dalam site agar
tidak terlalu menganggu fungsi bantaran sebagai area resapan air.

Selain monumen dan bantaran dibangun pula area Situ Center yang berfungsi
sebagai area informasi mengenai kepada masyarakat-masyarakat.  Area ini
lebih didominasi ruang terbuka hijau. Sebuah plaza ditempatkan di depan situ
center sebagai entrance, penghubung dengan bantaran di seberang situ center.
Didesain pula sebuah jembatan untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda.

Lansekap di Situ Center didesain sebagai communal space yang didalamnya
terdapat area bermain, *snack shop*, *picnic shelter*, *seating area*,
parkir sepeda dan toilet umum.

Dalam sayembara ini, pemenang sayembara dipekerjakan sebagi tenaga ahli dlm
pelaksanaan konstruksi Monumen Situ Gintung dan Situ Center. Walaupun mereka
menjadi pemenang ketiga, proposal mereka justru yang direalisasikan di
lokasi karena pertimbangan budget yang cukup realistis. Proses
mengkomunikasikan konsep pada banyak pihak pun ditemu di sini.

Ricky Sandra (Tyo) berbagi kisah

*Sayembara Bangka Belitung Eco Park ( Juara I )*

Semangat untuk mengembalikan keindahan dan kecantikan bumi Bangka-Belitung
dalam Visit Babel-Archipelago 2010 merupakan mula terselenggaranya sayembara
ini, yang juga didukung oleh  ITB, UBB, IALI, PN Timah bertajuk  Sayembara
New Landscape In Ex-Mining Development, Bangka Belitung Eco Park.

Dalam sayembara ini peserta ‘diberi tugas’ untuk menggarap ex-mining site
area seluas 1100Ha. Dalam bereksplorasi mereka juga menaruh perhatian pada
kegiatan pengrusakan lingkungan yang disebabkan oleh para penambang timah
liar.

Sayembara dibagi ke dalam dua buah tahap, yaitu Desain konsep/ skematik
masterplan sebagai tahap pertama, lalu dilajutkan tahap kedua yaitu skematik
tiap zona dan kunjungan lokasi.

Setelah melalui serangkaian proses eksplorasi desain, tim Frangipani6
akhirnya menemukan konsep “Keseimbangan dalam Simbiosis” dengan
mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi, sosial budaya dan lingkungan.  Dari
konsep tersebut, mereka menciptakan beberapa zona dalam satu kawasan; zona
preservasi, zona eco resort, zona rekreasi, zona riset dan edukasi dan zona
penghubung/ transisi.

Dalam zona penghubung, terdapat Iconic Garden, Agrowisata dan hutan
reklamasi & *wildlife*. Dalam zona riset edukasi terdapat museum, riset
tambang, sekolah alam dan *windmill*. Dalam Zona Rekreasi terdapat ex-*
mining* *park*, *water park*, *adventure park*, restoran, *amphiteater*,
pasar seni dan danau sebagai area rekreasi air.

Popo Danes memberi sambutan di akhir presentasi

*Sayembara Perpusnas (peserta)*

Sayembara yang diadakan dalam rangka peningkatan fungsi dan peran
perpustakaan Nasional RI adalah sayembara yang baru saja mereka kerjakan
baru-baru ini. Bagi Tim Frangipani6, pengerjaan sayembara ini telah mencatat
sebuah ‘rekor’ dalam catatan perjalanan berarsitektur mereka, karena mereka
berusaha melakukan serangkaian tahap-tahap nya hanya dalam tiga hari.

Dengan luas lahan sebesar 11.920m2 dan Koefisien Dasar bangunan 45%, para
peserta sayembara ‘diberi tugas’  untuk dapat memberikan konsep desain  bagi
Gedung Perpusnas yang juga berada disekitar bangunan cagar budaya.

Konsep utama dari karya mereka ditekankan pada dua aspek yaitu ilmu dan
sejarah. Sejarah dilambangkan dengan bentuk yang dikembangkan, sedangkan
ilmu diperlihatkan pada aktivitas-aktivitas di dalamnya. Keseluruhan
bangunan Perpusnas termasuk aktivitas di dalamnya mewakili sebuah kesatuan
yang berawal dari sejarah yang kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk
yang bersifat kekinian sebagai sebuah cerminan masa depan. Sehingga konsep
yang dihasilkan merupakan refleksi sikap-sikap keilmuan yang memiliki masa
lalu, masa sekarang, dan menatap ke masa yang akana dating.

Konsep-konsep tersebut kemudian ditransformasikan ke dalam bentukan
arsitektural yang terinspirasi dari bentukan daun lontar sebagai inskripsu
pertama yang dikenal manusia. Kemudian bentukan baru yang berbentuk seperti
selubung seolah melindungi  Gedung Trisula sebagai cagar budaya.Pada
interior, juga dapat ditemui bentukan-bentukan prasasti pada
dinding-dindingnya.  Konsep-konsep  bentukan itu merupakan transformasi dari
refleksi sejarah.

Refleksi ilmu kemudian  ditransformasikan sebagai taman bacaan terbuka yang
didasari dengan pemikiran alam sebagai sumber ilmu yang terbaik. Ruang yang
terbuka kemudian turut pula menjadi hasil dari refleksi ilmu, dimana ruang
yang bersifat open plan dapat pula menadi ruang-ruang diskusi sehingga
mewadahi kegiatan pengemabangan ilmu pengetahuan. Bias-bias cahaya matahari
yang memasuki ruangan di dalam perpusnas ini  pun selain dimanfaatkan
sebagai pencahayaan alami, ini juga sekaligus menyampaikan sebuah pemikira
dimana cahaya sering kali dilukiskan sebagai pencerahan/ilmu pengetahuan.

Dari keseluruhan pengalaman mereka berkarya dalam sayembara-sayembara,
banyak sekali hal yang bisa dipelajari dan menjadi prinsip para arsitek muda
ini. Sayembara bagi mereka adalah sebuah media berarsitektur yang sangat
menyenangkan dalam bereksplorasi dalam desain arsitektur. Dimana tidak ada
batas dalam ruang-ruang pemikiran dan menuangkan ide.

Menambah pengalaman dan portofolio. Sayembara dapat menjadi ruang untuk
melatih mereka untuk terus berkarya, meningkatkan kekritisan atas sebuah
isu, dan menjadi tidak berhenti begitu saja karena akan melewati tahap
penilaian oleh juri, mempresentasikan karya, dan berkesempatan untuk
mereleasasikan ide dan konsep yang telah digodog secara matang dan
terkonsep.

Bagi  Laksana, Bagus, Dondiet, dan Tyo, cerita ini tidak akan berhenti hanya
sampai disini saja. Cerita ini akan masih terus bersambung, ke cerita-cerita
di balik sayembara-sayembara berikutnya, yang akan kami ikuti di masa
mendatang, dan semoga cerita dari mereka mampu member motivasi berkompetisi
bagi para arsitektur muda lainnya. Dan seperti yang ditambahkan oleh Popo
Danes di akhir presentasi mereka, ini adalah salah satu aternatif ‘pintu
gerbang’ untuk memasuki dunia arsitektur profesional  dan masih banyak lagi
cara kreatif lain untuk ke dunia itu.

Selamat berkompetisi dan bereksplorasi!

-Tim Architects Under Big 3 –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s