Arsitektur Kita, di Bawah Bayang-Bayang Arsitektur Luar

Sudah tidak dapat dipungkiri di masyarakat awam sejak dulu bahwa arsitektur kita sampai saat ini masih berada di bawah bayang-bayang arsitektur luar. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan-bangunan yang sifatnya eksklusif, proyek-proyek skala besar selalu melibatkan arsitek-arsitek luar negeri. Apartemen-apartemen mewah, stadion-stadion olahraga dan masih banyak lagi. Hal ini membuat saya menjadi berpikir, apakah sedemikian jauh tertinggal arsitek-arsitek kita dalam menciptakan suatu arsitektur dibanding dengan arsitek luar yang dapat menciptakan suatu arsitektur yang menarik, mengikuti perkembangan teknologi atau menciptakan tatanan kota yang rapi dan indah untuk dipandang, sampai-sampai arsitektur di negara kita ini sendiri menjadi ”latah” dengan meniru arsitektur luar.

Padahal jika dilihat secara mendalam pada sisi filosofis, terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara arsitektur budaya barat dengan arsitektur budaya ketimuran dimana jika dilihat secara sekilas seolah-olah bahwa barat dan timur tidak akan pernah bertemu. (disini saya posisikan arsitektur kita adalah arsitektur budaya ketimuran sedangkan arsitektur budaya luar arsitektur budaya barat sebagai bahan perbandingan). Dari sisi filosofis jika mengutip dari tulisan Ryadi Adityavarman dalam buku ”Ruang di Arsitektur Jawa” maka sistem budaya barat pada dasarnya bertumpu pada asas dualisme dengan 2 hal yang berseberangan secara tegas. Namun sebaliknya dalam budaya ketimuran pada umumnya berlandas pada asas non-dualisme dimana segala hal saling terkait secara baur menyeluruh.

Lalu kenapa arsitektur kita selalu berada di bawah bayang-bayang arsitektur luar hingga saat ini?bukankah baik arsitektur luar maupun arsitektur kita mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing?lalu mengapa kita sampai latah mencoba meniru-niru secara langsung arsitektur luar yang belum tentu akan sesuai dengan kondisi geografis, budaya dan iklim yang ada di negara kita?sampai kapankah hal ini akan terus terjadi pada arsitektur kita?dan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai arsitek-arsitek di negara kita sendiri untuk menonjolkan kearifan arsitektur lokal?

Menurut saya ada beberapa poin penting mengapa arsitektur kita selalu berada di bawah bayang-bayang arsitektur luar. Yang pertama, adalah kita kurang pengetahuan dan kurang paham akan makna arsitektur kita yang jauh sebelum kita lahir telah dibuat oleh para leluhur kita. Kita ambil salah satu contoh saja yaitu, Rumah Tradisional Nias, rumah yang tahan gempa, memakai bahan-bahan lokal, bentukan bangunan yang khas dengan barisan tiang utamanya bekerja sama dengan kolom penguat, dihubungkan dengan tiang diagonal di bagian kolom bangunan. Rumah model panggung memungkinkan bangunan menjadi sejuk karena aliran udara dapat melewati bawah bangunan, lalu kenapa bahan-bahan lokal? Mungkin dulu leluhur kita belum mengenal pada paham suistainable design, mereka hanya tahu bahan-bahan lokal tersebut mudah didapat, sesuai dengan kondisi iklim di daerah tersebut lalu dengan segala kreatifitas mereka yang digabungkan dengan nilai-nilai budaya sekitar maka muncullah bentukan rumah tradisional tersebut.

Jika dihubungkan dengan arsitektur masa kini, maka bukankah Rumah Tradisional Nias adalah bangunan yang sustainable? Padahal di luar negeri sana baru beberapa tahun lalu di gembar-gemborkan mengenai sustainable design, itupun juga karena efek pemanasan global yang terjadi sekarang. Di negara kita sendiri ternyata sebenarnya telah memikirkan hal tersebut.

Disinilah letak kesalahan kita sebagai arsitek-arsitek penerus yang melanjutkan tongkat estafet dari para arsitek yang notabene adalah leluhur kita sendiri. Inilah mengapa saja jadikan poin pertama, karena kita kurang informasi & pemahaman tentang arsitektur kita dan celakanya poin pertama memiliki efek domino terhadap poin kedua yaitu tidak bangga-nya masyarakat untuk berarsitektur berwawasan nusantara. Di era globalisasi ini memang kita harus mengikuti perkembangan jaman, namun kita sebagai arsitek tetap harus menyisipkan nilai-nilai arsitektur nusantara yang memikirkan nilai budaya, geografis, dll. Kita tidak bangga terhadap arsitektur kita sendiri karena sudah membudaya di dalam diri kita sendiri untuk selalu men”dewa” kan arsitektur. Tidak hanya mengenai arsitektur saja, bahkan produk-produk sehari-hari dari luar negeri pun kita ”dewa” kan.

Berarsitektur bolehlah berbentuk yang luar biasa, berkonsep yang luar biasa, namun setidaknya kita tidak lupa akan nilai-nilai arsitektur nusantara kita sendiri. Seperti pemahaman yang dijelaskan oleh Ryadi Adityavarman dimana ciri khas arsitektur kita adalah pada asas non dualisme yang saling terkait secara menyeluruh. Jika poin pertama dan kedua dapat kita lewati yaitu pengetahuan & kearifan lokal & kita bangga mengakuinya sebagai pengetahuan luhur bukan sebagai pengetahuan kuno, kolot & ketinggalan jaman maka motor penggerak agar kita tidak menjadi bayang-bayang arsitektur luar telah dirakit. Meskipun begitu masih ada 2 poin lagi yang harus dicermati.

Poin ketiga adalah kurangnya penghargaan masyarakat terhadap profesi arsitek. Kita ambil perbandingan dengan profesi dokter. Dokter sudah (terpaksa) dihargai masyarakat, jika orang sakit mereka tidak menuntut minta obat ini itu, suntikan ini itu, pasien tidak mendikte dokter agar cepat sembuh. Lalu bagaimana dengan profesi arsitek?klien datang dengan permintaan ini itu, ingin bangunan seperti di Perancis, ingin model atap seperti Bali, ingin jendela seperti di Inggris, dll. Sehingga jika dipaksakan maka akan menghasilkan arsitektur yang comot sana comot sini. Padahal dalam berarsitektur haruslah ada kesinergian antara pemilik dan perancang. Pemilik menjabarkan kebutuhan kemudian dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki perancang dibuatlah sebuah rancangan, dan kesemuanya ini terdapat proses dan kompromi-kompromi. Maka banggalah menyelipkan filosofi-filosofi rarsitektur nusantara dalam merancang.

Ada klien yang mendikte arsitek, bahkan ada yang sebaliknya dengan ego pribadi sang arsitek. Nah disinilah nilai filosofi arsitektur ketimuran itu muncul yaitu bersinergi, tidak hanya bersinergi dengan alam tapi juga bersinergi dengan kebutuhan yang ada. Bersinergi bukan berarti mengalah pada yang lebih kuat, bersinergi bukan berarti ketinggalan jaman, bersinergi adalah saling berbagi pengetahuan satu sama lain baik pada klien maupun arsitek. Jika kita mampu bersinergi maka masyarakat secara lambat laun akan menghargai profesi arsitek karena pemahaman tentang desain itu sendiri telah berkembang pada diri masyarakat.

Poin keempat yaitu perkembangan teknologi. Kita masih jauh tertinggal dengan yang lain. Sudah sangat jelas sekali keterkaitan teknologi dengan arsitektur karena arsitektur adalah bidang multi-disiplin. Termasuk di dalamnya adalah ilmu matematika, sains, seni, teknologi, sejarah, filsafat,dll. Seperti yang dikatakan oleh Vituvius, ”Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, & dilengkapi dengan proses belajar; dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni.

Dengan dibekali ilmu teknologi dan material maka kita bisa menciptakan karya-karya yang kreatif, belajar dari pengalaman pribadi semasa kuliah ketika akan mengajukan desain untuk asistensi, membuat bentukan massa yang lengkung sana lengkung sini, tarik sana tarik sini sehingga tercipta bentukan yang unik bagi saya, namun ketika di asistensi, pertanyaan pertama yang muncul dari dosen asisten adalah bahan material apa yang dipakai agar tercipta bangunan seperti ini?lalu bagaimana membangunnya?saya pun menjawabnya ”tidak tahu pak!” (sambil tertawa dan sambil berpikir bodohnya diriku). Karena  memang tidak memiliki pengetahuan tersebut. Sebagian besar lulusan arsitektur di Indonesia pun mengalami hal ini, tak tahu harus melangkah kemana setelah lulus kuliah. Mau membuat konsultan sendiri ternyata ilmu yang didapat di bangku kuliah tidak seberapa mumpuni di dunia nyata kalaupun nekat ya harus banting harga agar dapat klien. Hhhh…ternyata profesi arsitek tak selalu se”keren” dipikirkan orang.

Untunglah hal ini terjadi semasa kuliah, bagaimana seandainya hal tersebut saya alami ketika di dunia profesional. Bagaimana jika pertanyaan tersebut diajukan oleh klien. Jika kurang pengetahuan maka gagal lah desain yang kita ajukan karena tidak mempunyai teknologi yang mampu untuk membuat bangunan tersebut.

Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan belahan eropa yang teknologinya sudah maju, kita sebut saja arsitek-arsitek ternama yang terkenal karena desainnya yang spektakuler seperti Frank Gehry, Zaha Hadid, Daniel Libeskind, Santiago Calatrava, dll. Mereka bisa membuat bentukan-bentukan arsitektur tersebut karena pengetahuan dan teknologi selalu memback-up mereka. Untuk itu teruslah mengembangkan pengetahuan teknologi dan material di bidang arsitektur. Maju terus arsitektur Indonesia.

– I Nyoman Sunartha-

One thought on “Arsitektur Kita, di Bawah Bayang-Bayang Arsitektur Luar

  1. Pingback: Contoh Design Rumah Tradisional - Rumah-Rumah Minimalist – Rumah-Rumah Minimalist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s