NKRI: Nusantara, Kampung Rakyat Indonesia

Galih W. Pangarsa, Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya [arsiteknusantara@blogspot.com; galihwpangarsa@gmail.com]


1. Mengapa perlu mengkaji kampung?

Kesatu, karena kampung adalah realita  Indonesia. Tapi sangat mengherankan bahwa sejak kira-kira 90 tahun pendidikan arsitektur di negeri ini, kampung bukan kenyataan bagi lembaga pendidikan ―yang tak lain adalah juga lembaga keilmuan pula. Buktinya, segala teori masih diimpor dan diperlakukan sebagai cemeti bagi sekalian itik-bebek mahasiswa kita yang harus ada di belakang para penggembala-penulis teori yang bercikal bakal dari Eropa itu.  Segala penghargaan arsitektur pun masih dikuasai cambuk sipir Eurocentrism.  Kita ada dalam penjara, tanpa disadari. Kampung, bagi kita, belumlah berarti-nilai sebagai lahan galian keilmuan. Padahal, di kampunglah hidup kita; kita bangsa kampung, dan semestinya berbangga menjadi kampungan.

Tentang bagaimana keterasingan kampus atau sekolah dengan dunia sekitarnya, WS Rendra, mengemas kalimat-kalimat tajamnya dengan judul Sajak Sebatang Lisong sebagai berikut:

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………..
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat

protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair (arsitek-arsitek)[*] salon,
yang bersajak tentang (mendesain berhias nikmat)* anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
…………………..
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian (arsitektur)*,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.


19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi

(Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaya).

Kedua, karena pada tahun 2030-an nanti, 70% penduduk dunia, termasuk Indonesia,  akan menghuni perkotaan. Di Jawa dan Sumatera, berlangsung gejala kuat mega-urbanisasi dan urbanisasi perdesaan. Apalagi kesejarahan keduanya sangat mendorong kecenderungan itu.  Pada tahun 2010 pun, jumlah penduduk perkotaan di Indonesia sudah melampaui penduduk perdesaannya ―demikian menurut Dr. M. R. Djarot W.,  M.Sc, Program Studi Pembangunan Wilayah, UGM, pada pidato Dies Natalis UGM, 2009.

Ketiga, sangatlah ironis, menghadapi perubahan besar itu, bagi tak sedikit kalangan, arsitektur masih dipandang sebagai (kompleks) bangunan tunggal. Tentu saja, dengan muatan individualismenya yang mendudukan segala perbedaan sebagai dialektika dan persaingan. Halal bagi individualisme untuk mengorbankan kaum lemah. Halal pula bagi pembangunan di Indonesia untuk menggeser dan menggusur siapa saja yang merintangi. Halal pula mengembangkan arsitektur yang tak peduli pada si miskin. Tak perlu malu untuk mengakui sebuah dosa bersama. Bahwa ilmu dan praksis arsitektur didedikasikan hanya untuk mereka yang bisa membayar uang sekolah dosen dan honor para arsiteknya saja.  Pertanyaannya: haruskah hal ini terus berkelanjutan?

Maka, bukankah berarti bahwa arsitektur yang dikembangkan di Indonesiaa saat ini mutlak memerlukan paradigma yang tepat untuk menanggapi kehidupan bersama, terutama di perkotaan? Kampung, bukanlah sekedar kumpulan bangunan, tetapi lahan yang sangat kaya untuk menggali ilmu yang dikandung jauh di dalam pertiwi budaya Nusantara.  Ilmu yang sesuai dengan fitrah manusia, masyarakat, dan alam Nusantara.

2. Kampung adalah Latar-Pembelajaran (Learningscape)

Masyarakat Kota

Jika anda terdorong bangkit, maka bersegaralah menempa-diri wahai para arsitek muda, karena perlu perjuangan untuk menerapkan Kearifan Kampung (Nusantara). Tak cukup hanya seminar dan sayembara, tetapi juga ketekunan bereksperimen.  Terapan kearifan kampung (Nusantara) pada desain arsitektur bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun mutlak mesti diawali dengan pengamatan dan penelitian yang tekun. Dokumentasi Adi Purnomo (Mamo) membuktikannya untuk mengenal dengan jeli dan seksama karakter bahan dan lingkungan alam Nusantara.

Alamnya pun berbeda dengan negeri asal segala teori yang dipakai. Nusantara kaya sinar matahari, berbeda mutlak dengan daerah 4 musim yang selalu perlu cerlang matahari, hal yang menjadi inspirasi bagi para starchitect-nya. Nusantara adalah  wilayah budaya arsitektur cerlang dan bayang sekaligus; Nusantara juga wilayah tropis-basah 2 musim arsitektur pernaungan (bukan perlindungan).  Desain Mamo, khususnya di Studi-O Cahaya, jelas lebih kompleks daripada sekalian starchitects (dari yang sudah wafat seperti Corbu, sampai Ando, Jean Nouvel, Peter Zumtor, Enrique Norten, dan yang muda yang berbakat seperti Bjarke Ingels atau Hirata, dan lain-lain di wilayah iklim sub-tropik ―mereka yang bernama besar dan dipuja-idolakan oleh generasi muda arsitek). Mengapa? Karena tak seperti mereka yang mengatur cerlang langit dan matahari, Mamo seperti halnya  para arsitek tropis dua musim lainnya, juga mesti berkutat untuk mengatur bayangan.

Selain itu, Nusantara adalah wilayah budaya gotong-royong (berasas saling-memberi, bukan saling meminta); Eko Prawoto yang berperan sebagai pekerja sosial di pembangunan pasca-gempa di Ngibikan, Jogjakarta (2006), bukan hanya satu-satunya contoh.  Yusing, meskipun bukan pemenang sayembara Stren Kali Surabaya (2010), ide paradigmatisnya sangat kuat untuk mengangkat ke-kampung-an. Belum lagi yang lain mungkin belum terpublikasikan. Yang paling sering dabaikan ialah bahwa ruang-publik desa-desa Nusantara adalah ruang pendidikan (learningscape) generasi muda pula. Banyak arsitek gagal memahami keindahan yang nir-rupa atau keindahan bersahaja, yaitu keindahan selain tertuju pada yang empirik, difokuskan pula pada yang meta-empirik.  Secara sangat kebetulan, Ary Indra menerapkan ide fahombo Nias sebagai sarana pendidikan generasi muda pada prosotan rumahnya sendiri, The Playing House (2010), yang mendapat penghargaan RIBA (tentang karya-karya di atas, dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=X42T49R1SNk).

Betapa pun berandalnya seseorang anak-muda di jalan raya (misalnya dengan motor yang knalpotnya di-”plong” sehingga bersuara sangat keras), ketika masuk gang kampung, ia berubah menjadi santun. Seorang bocah kampung, sejak mulai bisa berjalan, akan ikut serta memakai gang di depan rumahnya sebagai tempat belajar bermasyarakat dan belajar menjaga keselamatannya sendiri; para ibu tetangganya pun ikut menjadi pengasuhnya. Gang kampung bukan sekedar prasarana transpor, tetapi juga ruang pendidikan. Mereka yang remajanya besar di kampung dengan segala tradisinya ―slametan, siskamling, gotongroyong menyelenggarakan pesta perkawinan, bantu-membantu memakamkan warga, tepa-salira dalam memakai ruang teras, dan seterusnya― pasti mempunyai karakter sosial yang berbeda dengan merekayang dibesarkan di realestat atau kompleks gedongan. Kampung (terutama kampunh jadul), secara utuh adalah learningscape, latar pembelajaran warga dan siapa saja yang memasuki teritorinya. Jadi arsitektur kampung, bukanlah hanya artifak fisik.

3. Memahami Kampung secara Holistik

Kampung, selain artifak fisik, adalah juga “artifak sosietal”, yaitu wilayah atau teritori tempat dikerangkakannya konsep-konsep pengetahuan dan teknologi menjadi satu kesatuan praksis sosial.  Praksis itu selalu holistik. Hanya keterbatasan rasionalisme keilmuan kita saja yang masih melihatnya secara parsial dan inkremental.  Kampung juga “artifak mentalitas”, yang ada di balik artifak fisik dan sosietal. Dan paling sulit ialah memahami sifat-keadaan majemuknya kampung. Ibarat sungai, kampung adalah sungai dengan beragam bebatuan. Tradisi pikir mono-disiplin modernisme yang parsial dan inkremental ibarat seseorang dengan beban berat, yang harus menyeberangi sungai itu.

”Tentu saja, makin berat dan besar beban tradisi-pikir yang dipikul, makin sulit melompat lincah di atas bebatuan sungai licin-berlumut kejamak-majemukan karakteristik arsitektur rakyat. Apalagi untuk sampai di tepian jelas-benderang sungai keilmuan itu. Pola tradisi-pikir skolastikal  yang terlalu ketat dan berat dengan satu jenis pola tradisi-pikir rasionalistik, sulit untuk berloncatan di atas kejamakan bebatuan. Apalagi ada pula keragam-majemukan jenis bebatuan sungai.

Kesulitan itu laksana kesulitan para raksasa yang tertamsilkan dalam gunungan wayang kulit purwa Jawa. Golongan raksasa, berdiam di luar halaman rumah. Di luar halaman itu, yang tampak eksis baginya hanya spesiesnya saja. Maka ketika terjadi ketidaksamaan pandangan antar-raksasa, setiap kali mereka harus menggunakan penggada untuk takluk-menaklukan dan baku-pukul. Karena, yang dimengerti, ia hidup sendiri dengan asas darwinian: yang dapat bertahan dalam persaingan adalah yang berhak hidup. Barang siapa kuat penggada modal perekrut massa dan pandangannya, ia akan tampil sebagai pemenang.” (Pangarsa, 2006). Mereka yang dapat memahami kampung secara holistik  adalah yang telah mencapai titik pandang esensial, di puncak gunungan.  Yang telah meninggalkan sifat raksasa yang senang mengandalkan kekuatan rasionalisme-fisiknya.

4. Kesimpulan

Nusantara, Kampung Republik Indonesia. Kampung-kampung di seantero Nusantara sama-sama punya hak untuk ikut andil membangun satu kesatuan negara Indonesia, satu NKRI. Untuk mencapai arah dan tujuan tersebut, konsepsi kampung seyogyanya dapat:

  • Berpijak pada ilmu yang berwatak adil, yang tak hanya memihak manusia saja, tetapi juga memihak alam. Atas dasar keilmuan itu, akan dapat terkerangkakan konsep-konsep keilmuan yang memiliki kesempatan untuk:
  • Menumbuh-kembangkan konsep kehidupan bersama manusia-masyarakat-alam dalam keselarasan. Wujud-wujud gotongroyong dengan berbagai kesetempatan/lokalitasnya seperti song-osong lombung (Madura), basamo (Minangkabau), gugur-gunung (Jawa), termasuk dalam konsep berkehidupan bersama yang dimaksud.
  • Mengendalikan keselarasan tersebut dengan perangkat moral/kepranataan dan sosial/ kelembagaan dalam politik kebudayaan yang bijak. Suatu arah tujuan tak akan terlaksana tanpa pengendalian yang tepat. Politik atau strategi kebudyaan adalah alat mengendalikannya. Dalam hal ini, kampung sepantasnya termaktub dalam strategi kebudayaan Indonesia, khususnya untuk pengembangan lingkungan binaan perkotaan.  Kota kita tidak perlu menjadi kota Eropa yang serba ”steril”; bangunan tinggi pun silakan, tetapi bangunan tinggi yang koridornya mewadahi nuansa kehidupan kampung, yang masih dapat menyalurkan sikap keakraban sesama warga kotanya.

Tersisa satu pertanyaan: mampukah penguasa negeri ini menjalankan politik kebudayaan sebagaimana di atas bila yang diprioritaskan bangsa ini hanya mengejar kemakmuran serba mewah-gemerlap (bukan kemakmuran bersahaja)? Masihkah Indonesia mempunyai putera negeri berwawasan budaya cukup matang untuk tampil sebagai pemimpin masa depan? Jika tidak, mengapa bukan anda?

Rujukan

Pangarsa, Galih Widjil, 2006, Merah-Putih Arsitektur Nusantara, Penerbit Andi, Yogyakarta

________, 2007, Towards a  Nusantara City, Seminar Internasional Knowledge City, (invited speaker) Jurusan Arsitektur USU, 13-14 Nopember 2007 [ISBN 979 458 313 8], USU Press, Medan

________, 2008a, Bahtera Kemanusiaan Nusantara Di Laut Karawitan Arsitektur, (keynote speaker) Seminar Nasional Jelajah Nusantara, Jurusan Arsitektur ITS, 13-14 Nopember 2008, Surabaya

________, 2008b, Arsitektur untuk Kemanusiaan Teropong Visual Culture. Teropong Visual Culture atas Karya-karya Eko Prawoto, Surabaya, Wastu Lanas Citra, [ISBN 978-602-8114-24-0]

________, 2009a, Eurocentrism: Kebuntuan Keilmuan Arsitektur (E-article; http://issuu.com/ eurocentrism/docs/) uploaded 9 April 2009

________, 2009b, Starchitect & The Beauty of the Beast (E-article; http://issuu.com/ eurocentrism/ docs/) uploaded 5 Mei 2009

________, 2009c, Arsitektur Berbudaya: Kemasan Nilai Hakiki Berlanggam Bahasa Negeri dalam Budihardjo, Eko [ed], Arsitek Sasra Gatra, UNDIP Press, Semarang

________, 2011a, Jawa: Titik Perimbangan Kesepasangan Fenomena (Seminar Internasional Javanologi, 7 Maret UNS 2011)

________, 2011b, DNA Arsitektur Nias pada Lorong Gravitasi Nusantara Kontemporer (E-book, http://www.issuu.com/galihwpangarsa/docs/ lorong_gravitasi_nusantara_kontemporer, uploaded 21/03/2011; versi video/populer http://www.youtube.com/watch?v=5_esQt-JK2U).



[*] Mohon maaf, kata dalam kurung adalah interpretasi saya sendiri ―GWP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s