MRT atau, dan Bus?

MRT atau, dan Bus?

Pada Feature Rujak menempatkan tulisan Rika Febriyani tentang halte bus, lengkap dengan album foto yang bercerita banyak. Ini menegaskan lagi dan lagi, betapa besar ruang untuk memperbaiki sistem bus di Jakarta. Yang ada saja tak beres-beres. Halte tak ada yang seperti dibuat untuk bertahan lama, malah seolah-seolah sengaja bersifat sementara. Informasi trayek sangat langka. Di satu dua halte ada keterangan trayek yang terletak sangat tinggi sehingga susah dibaca. Lagipula informasi tempat-tempat yang dilewatinya minim. Ada beberapa trayek yang sangat populer, misanya P20, karena daya jangkaunya jauh, sehingga murah. Tapi tidak semuanya demikian. Ini juga menunjukkan ada yang masih dapat dibenahi pada soal trayek ini.

Untuk mengetahui trayek bus di Jakarta klik di sini.

MRT entah jadi entah tidak. Soal pembebasan lahan dan hukum tentang ruang bawah tanah akan menjadi salah satu hambatan besar. Bagaimana dengan kelayakan finansial? Berapa tarif mau dipasang? Sekalipun hanya untuk menanggung biaya operasional. Semoga investor Jepang yang dibanggakan selama ini tetap bertahan. Yang pasti, MRT jadi atau tidak, kita sudah punya sistem bus. Dan ia siap dibenahi, kalau saja kita mau bekerja tekun dan sistematis, mengerjakan yang perlu, di samping membuat rencana yang besar-besar dan hebat-hebat.

Orang Indonesia yang ke Singapura selalu terkesan dengan MRT nya. Tetapi kurang disadari, bahwa sebenarnya sebagian cukup besar rakyat Singapura juga naik bus yang juga sangat layak, nyaman, dan sistematis di sana.  Klik di sini untuk melihat sekedar beberapa fotonya. Sistem informasinya luar biasa. Di Halte ada peta besar jaur-jalur bus; di sebelahnya ada daftar trayek dengan jadwalnya. Di sebelahnya lagi ada petunjuk tentang bus-bus yang sedang mendekati halte yang bersangkutan. Yang terakhir ini saya pernah lihat juga di Kyoto.

Yang menjadi pertanyaan kita adalah: Mengapa nampaknya begitu sulit untuk membuat perbaikan-perbaikan yang “what”nya  itu sudah begitu jelas sebenarnya? Apakah kota ini tidak bisa meng-organisasi dirinya sebagai layaknya sebuah kota modern? Mengapa setiap kali kita meminta pemprov membenahi sesuatu, mereka selalu menuding kembali ke warga, bahwa warga harus disiplin, bahwa mereka tidak bisa apa-apa kalau warga sendiri tidak berperan serta disiplin? Ya, bagaimana warga harus mulai kalau pemprov sendiri tidak mulai? Ya, warga harus disiplin, tetapi pemerintah dibentuk untuk menegakkan disiplin itu secara adil dan tidak pandang bulu.

(taken from rujak.org)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s