SKETSA (novel berlatar dunia arsitektur)

Beberapa tahun terakhir ini, saya menyusun sebuah novel berlatar dunia
arsitektur dan akan segera terbit akhir bulan ini. Semoga bisa
memasyarakatkan arsitektur lewat dunia fiksi.
Sedikit cuplikannya:

SKETSA
oleh: Ari Nur Utami

Ia baru sampai di pintu masuk kantor dan langsung diseret ke depan
komputer. Menghadapi sepiring menu sarapan pagi: halaman sebuah surat
kabar online.
“Ket, Keket! Lihat ini!”
Ulasan berita dari dunia properti terpampang, berupa artikel dengan
gambar yang lebih mendominasi dibanding tulisan. Foto sebuah bangunan
yang dipotret dengan gaya kalender, berlatar langit biru, awan putih,
dan hijaunya pepohonan. Ia merasa tak asing dengan desain bangunan
yang ada di foto itu. Namun, ia belum paham akan apa yang sebenarnya
terjadi.
“Ini desain kamu, kan?”
Desainku?
“Desain yang dulu kamu presentasiin, dibangun sama orang!!!”
“Hah?!”
“Beneran! Dapet penghargaan, lagi.”
Ia tertegun.

“Tapi, jelas bukan kita yang dapet penghargaan!”
“PT Semesta Sentosa! Hei, itu, kan, mantan calon owner kita dulu!”
teriak yang lain.
Seisi kantor langsung heboh!
“Sonya, kumpulkan anak-anak di ruang tengah!”
Wajah tua orang nomor satu di kantor itu terlihat muram. Beberapa
kali, ia menghela napas berat.
“Dulu, saya pernah ngalamin kejadian kayak gini,” ucapnya lirih,
menatap satu per satu anak buahnya yang duduk mengelilingi meja rapat.
“Waktu itu, ada klien datang, minta dibikinin desain rumah. Ya saya
bikinin. Begitu saya presentasi, dia bilang, pikir-pikir lagi. Semua
file gambar dipinjem, buat ngitung anggaran, cukup apa nggak. Dia
bilang mau telepon lagi. Ditunggu sebulan, dua bulan, nggak ada kabar.
Dia sama sekali nggak bisa dihubungi. Ngilang gitu saja, nggak bayar
sepeser pun. Saya juga nggak bisa berbuat apa-apa. Eh, tahu-tahu,
setahun kemudian, desain saya udah jadi rumah. Saya lihat nggak
sengaja, di pinggir jalan. Saya coba hubungi pemiliknya. Ternyata
rumah itu udah pindah tangan.”

Pak Bondan kembali menghela napas, menatap anak buahnya yang hanya
bisa tercengang. “Oh ya, Mbak Katrin, file-nya dikasih sama mereka?”
lanjutnya. Yang ditanya hanya bisa  mengangguk pasrah.
“Tapi, San Offisa bukan cuma rumah tinggal, Pak. Itu harganya pasti
puluhan miliar. Tujuh persen ongkos desainnya pasti udah puluhan
juta.”
“Bukan puluhan, tapi ratusan!”
“Dulu saya satu tim sama Mbak Katrin. Ngerender-nya setengah mati!”
“Kamu cuma ngerender. Gimana Mbak Katrin yang bikin rancangannya dari
nol sampai  jadi?”
“Terus, kita musti gimana, dong? Masa diem aja?”
“Tapi, kalau mau lapor, lapor ke mana? Lagipula, siapa yang percaya?
Semesta Sentosa itu perusahaan besar.”
“Iya, karyawannya saja ribuan.”
“Justru kalau mereka itu perusahaan besar, kenapa musti nyolong?
Kenapa musti curang? Emangnya mereka nggak punya duit buat bayar
arsitek?”

“Justru itu, makin kaya, makin pelit.”
“Salahnya Mbak Katrin juga. Kenapa dulu file-nya dikasih sama mereka?”
“Waktu itu, mereka yang minta,” jawab Katarina lirih, tanpa bermaksud defensif.
“Lagipula, soal hak cipta dalam dunia arsitektur, belum jelas
undang-undangnya.”
Perdebatan pun segera mendominasi acara pagi itu. Namun, tak ada
solusi yang bisa dihasilkan. Hingga akhirnya, masing-masing terdiam,
terkunci dengan pikiran masing-masing.
“Ya sudah, jadikan pelajaran untuk semua! Sudahlah, kalian kerja lagi sana!”
Hanya itu yang dikatakan Pak Bondan.
Yang lain pun beranjak menuju meja kerja masing-masing kecuali
dirinya yang tetap diam, menunduk. Kejadian ini demikian memukul
batin. Mengusik alam pikirnya hingga ke sudut terdalam.
Sonya menghampiri, merangkul sahabatnya.
“Sabar aja, Ket. Hal kayak gini biasa kejadian. Bos aja pernah kecolongan.”
Ia menggeleng. Ini tak bisa dibiarkan …!

***

Katarina berdiri tertegun di depan bangunan itu. Ada getar haru
merambat, mendesir hingga ke sendi-sendi. Ada rasa bangga membuncah,
mengalir hingga ke urat nadi. Desainnya benar-benar dibangun! Desain
yang ia hasilkan melalui proses sedemikian panjang dan melelahkan.
Sang arwah yang dulu cuma coretan dan sketsa di atas kertas, kini
menjelma raga. Permainan garis dan bidang yang dulu hanya benda
abstrak dalam file komputer, kini tampak nyata, berdiri kokoh
menantang semesta. Betapa semua persis seperti rancangannya, sampai
detil terkecil. Di sisi lain, rasa geram itu menghentak-hentak.
Segunung kemarahan yang tak tahu harus ditujukan ke mana.
Beberapa tahun silam, fenomena global warming mulai gencar
disuarakan. Di dunia perancangan, hal itu direspon dengan isu
Asitektur Hijau. Ada yang sekedar latah, memberi embel-embel hasil
rancangan dengan imej Green Architecture. Ada yang mengira hal
tersebut semacam gaya back to nature. Tapi ia merasa, pasti bukan
hanya itu. Meski awalnya yang terbayang di benak adalah Wisma
Dharmala, highrise building dengan tanaman memenuhi balkon, dari
lantai bawah sampai atas. Juga bangunan karya Ken Yang, tower dengan
void atau lobang di sana-sini yang terkenal hemat energi. Diam-diam,
ia mengadakan penelitian, di tengah kebosanannya sebagai Cad Operator.
Sebagai drafter alias pembuat gambar dan maketter atau pembuat maket.
Juga di tengah kemelut permasalahan pribadi. Ternyata, banyak sekali
hal yang kemudian ia temukan. Green Architecture adalah sebuah sikap
responsif bangunan terhadap lingkungan, terhadap iklim, terhadap
lahan, dan terhadap apa yang tersedia di sekitarnya.

Dengan rasa penasaran mendalam, dipelajarinya karya arsitek Norman
Foster, Commerzbank Frankfurt. Ia bahkan pergi ke penjual tanaman di
pinggir jalan, untuk belajar tentang tumbuhan. Juga mempelajari
kebutuhan bangunan akan air dan daur ulang limbahnya. Sampai akhirnya,
ia berhasil merancang sebuah bangunan. Baru sebatas model. Namun tak
terhitung lagi tenaga, waktu, dan biaya yang ia habiskan. Semua itu
belum memuaskannya, sebelum model itu benar-benar terbangun, menjadi
sebuah karya arsitektur.

Suatu hari, Biro Arsitera mendapat surat undangan tender dari PT
Semesta Sentosa. Sebuah biro kecil mendapat undangan lelang dari
perusahaan real estate raksasa, seperti penjual gudeg tenongan yang
diundang ke istana presiden. Peserta tender ada sepuluh biro. Tidak
main-main, beberapa di antaranya merupakan top ten nasional. Pak
Bondan, Direktur Biro Arsitera, sebagai manusia paling berwibawa di
kantor pun terlihat grogi menghadapi para peserta tender lain.
Pertemuan tersebut diadakan di sebuah ruangan hotel berbintang. Bisa
dibayangkan mewahnya jamuan makan siang yang disediakan owner untuk
para tamu undangan.

Acara diawali dengan penjelasan TOR (Term of Refference), yaitu
daftar  permintaan atau ketentuan dari pihak owner (pemilik) untuk
bangunan yang akan dirancang. Saat itulah, pihak owner yang diwakili
seorang Project Manager, mulai menyebut-nyebut tentang Arsitektur
Hijau. Saat itu juga, hatinya bergetar. Entah mengapa, waktu itu, ia
yakin, Biro Arsitera yang akan memenangkan tender ini. Terbayang
rancangannya yang baru sebatas model akan menjelma nyata, memberi
banyak manfaat pada para pengguna maupun masyarakat luas. Ia yakin,
yakin sekali. Dalam perjalanan pulang, dengan tergagap, ia
menceritakan tentang hasil penelitiannya.

Pak Bondan tersenyum kagum. “Nggak salah, kan, aku ajak kamu. Kalau
gitu, proyek ini, kamu yang tangani. Tunjuk asisten buat nge-draft,
biar kamu lebih konsen bikin konsep. Siapa saja, terserah, oke?
Semangat, ya!”
Senyum haru pun menghias, merasakan hari terindah sepanjang hidup. Ia
curahkan segalanya untuk proyek itu. Saat presentasi desain, para
peserta tender terpisah satu dengan lainnya. Ia berangkat sendirian
karena Pak Bondan tidak bisa ikut. Kali ini, bukan di ruang rapat
hotel seperti waktu acara penjelasan TOR, melainkan di sebuah kantor
kecil, mirip sebuah ruko. Perwakilan pihak owner bukan PM, namun hanya
seorang pemuda dengan penampilan yang tidak meyakinkan. Lebih pantas
sebagai drafter daripada sebagai penanggung jawab sebuah proyek. Waktu
itu, ia juga merasa aneh. Namun, semangatnya untuk bisa memenangkan
tender lebih mendominasi pikiran. Meski jauh dari dalam lubuk hati,
bukan itu yang ia inginkan. Urusan uang itu urusan Pak Bondan. Ia
hanya ingin desainnya terbangun, benar-benar terbangun. Ia pun
presentasi sebaik mungkin.

Selesai acara, owner meminta seluruh data presentasinya. Alasannya,
untuk mereka pelajari lebih lanjut, juga untuk dikoordinasikan dengan
pihak intern PT Semesta. Baru sekarang ia benar-benar menyadari, itu
adalah kesalahan paling fatal. Kesalahan terbesar sepanjang karirnya
sebagai arsitek.
Kenyataan tak seindah harapan. Seminggu kemudian, PT Semesta Sentosa
mengumumkan bahwa tidak ada pemenang tender. Sebagai tindak lanjut,
akan diadakan tender ulang. Kemungkinan lain, mereka akan menyerahkan
penggarapan proyek tersebut pada biro dari luar negeri. Seolah ingin
mengatakan, jangan salahkan kalau para pengembang lebih suka memakai
perancang asing. Terbukti, biro dalam negeri tidak becus bikin desain.
Sungguh tamparan keras bagi para konsultan lokal!
Sesudah itu, tak terdengar berita apa pun. Siapa pemenang tender, tak
ada yang tahu. Semua kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tanpa
diduga, beberapa tahun kemudian, impiannya benar-benar menjadi
kenyataan. Model kesayangannya telah menjelma menjadi sebuah karya
arsitektur. Dan mendapat penghargaan! Hanya saja, bukan ia atau Biro
Arsitera yang mendapatkannya.
Tangannya kembali mengepal geram.
Semesta Sentosa, tunggulah kehancuranmu …!!!

dst …

Mohon doa rekan semua, semoga novel ini bisa menjadi alternatif bacaan
yang baik, untuk masyarakat arsitektur maupun non arsitektur.
Terima kasih.

ttd
Ari Nur Utami
lulusan Arsitektur UGM Yogyakarta
facebook.com/arinur.utami
08996 8182 19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s