Sindrom Kesalahpahaman Antara Matahari Dan Bulan

Pada suatu malam purnama ketika jalan-jalan seorang diri di pantai Kuta yang waktu itu kebetulan agak sepi, saya bertemu dan sempat bercakap-cakap dengan sang Bulan Purnama yang begitu indah dan terang sinarnya. Ketika saya puji-puji keindahannya dan kecemerlangan sinarnya, sang Bulan manggut-manggut dan senyum-senyum bangga, tapi anehnya ketika saya mulai berbicara tentang kebaikan dan kehebatan sang Matahari, langsung saja sikap dan ekspresi wajah sang Bulan memudar dan secara emosional (tapi tetap sopan) protes, “Siapa sih itu yang namanya Matahari, dipuja-puja dan sipuji-puji banyak orang, padahal aku sama sekali tidak pernah melihat dia disini, apalagi bekerja. Kerjaannya kan cuma tidur-tiduran dan bersembunyi saja, uh!”

Untuk tidak merusak suasana malam purnama yang indah dan tidak membuat sang Bulan jadi lebih marah, pembicaraan cepat-cepat saya alihkan ke topic lain, sehingga malam itu kami berhasil berpisah secara baik-baik dan damai.

Tapi pada suatu pagi yang indah dan cerah, ketika jalan-jalan santai di pantai Sanur, secara tak dapat dihindari saya harus bertemu sang Matahari yang gagah perkasa dan sedang giat bersinar menyinari pantai yang cerah. Kami pun bertegur sapa dan bercakap-cakap santai ngalor-ngidul. Oleh karena memang sadar akan manfaat serta jasa-jasa sang Matahari yang begitu besar, secara tulus dan jujur saya pun memuji-muji kehebatan serta kerajinannya, dan sang Matahari pun manggut-manggut bangga dan dengan sukarela malah memperkeras pancaran sinarnya yang mengandung ultra violet yang konon (kata dokter) bisa merangsang pertumbuhan dan menyehatkan tulang-belulang semua makhluk hidup di dunia ini. Anehnya (atau mungkin juga tidak aneh), ketika saya mulai bercerita tentang kebaikan dan kecantikan sang Bulan, serta merta sang Matahari yang tadinya berwajah manis dan ramah, tampak emosional (tapi tetap sopan) dan protes, “saya merasa sangat heran (maksudnya tersinggung), karena ada banyak orang dan binatang sering kali bicara, bahkan juga suka menyanjung-nyanjung Bulan. Apa sih itu Bulan? Apa saja sih kerjaannya dia itu? Selama hidup yang sudah berjuta-juta tahun ini saya sama sekali belum pernah melihat dia melakukan sesuatu yang benar-benar bermanfaat. Tiap hari hanya saya yang bekerja keras, bersinar menyinari bumi rata-rata 12 jam tiap hari, tapi yang dipuja-puja  dan dipuji-puji kok ya malah Bulan, padahal yang namanya Bulan itu kerjaannya kan Cuma malas-malasan dan foya-foya saja, he..he..he..!”

Demikianlah sang Bulan dan sang Matahari sama-sama merasa dirinya paling hebat dan berjasa dalam hidupnya, hanya karena wawasan dan pengertian mereka sama-sama kurang atau mungkin juga karena mereka sama-sama tidak mau tahu dan tidak mau mengerti. Tampaknya di antara kita, sesame manusia, hal-hal yang serupa juga sering (untung tidak selalu) terjadi.

Orang-orang yang kebetulan jadi pegawai negeri alias abdi masyarakat (untung tidak semuanya) merasa diri atau profesi merekalah yang paling mulia, paling hebat dan paling berjasa terhadap nusa dan bangsa. Begitu pula yang jadi tentara atau jadi polisi atau jadi hakim atau jadi jaksa atau jadi wartawan (untung tidak semuanya) juga sering menepuk dada bangga dan menganggap diri dan profesi merekalah yang paling mulia, paling penting dan berjasa terhadap kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Orang-orang yang jadi pengusaha juga tidak mau kalah, terutama yang sudah terlanjur “success-success & kaya harta dunia” (untung tidak semuanya) juga paling suka menganggap remeh profesi lain, bahkan tak jarang secara pongah mengklaim profesi pengusahalah (enterprenuer-lah) yang paling bergengsi dan dibutuhkan dalam era globalisasi dan era perdagangan bebas sekarang. “Anda bisa bayangkan, apa jadinya negeri ini kalau kami para pengusaha mogok dan berhenti mengambil resiko atau berhenti berniaga menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat luas?” tantang mereka bangga.

Begitu pula para pekerja alias buruh (untung tidak semuanya). Secara gagah perkasa juga sering (untung tidak selalu) menepuk dada, “Apa saja sih kerjanya para pengusaha dan para birokrat, kami yang di pabrik dan di lapangan banting tulang kerja setengah mati, mereka enakan saja, mentang-mentang punya modal. Mereka hanya pandai hura-hura, malas-malasan di hotel dan kantor-kantor ber-AC, tapi keuntungan yang paling besar justru hanya dinikmati mereka saja, uh?!”

Padahal kalau saja mau direnungkan atau dipikirkan secara lebih mendalam sedikit saja, ketika sang matahari sibuk bekerja menyinari bumi dari pagi sampai sore, sang bulan ka nada di belahan bumi yang lain; sang bulan juga bekerja menerangi dan mempercantik bagian bumi yang lainnya. Begitu pula sebaliknya, malam hari saat sang bulan sibuk bekerja dan bersinar di benua amerika, sang matahari juga sibuk bekerja dan mengambil resiko di belahan bumi ameriki, hi..hi..hi.

Moral tulisan singkat ini adalah: “janganlah secara sembrono atau gegabah suka menepuk dada dan mengaku paling berjasa di dunia ini, apalagi sambil meremehkan pihak lain, hanya karena kita merasa belum pernah bertemu atau belum pernah melihat pihak lain itu telah bekerja, mengambil resiko, mempertaruhkan nyawa, mempertaruhkan modal, memeras keringat dan memutar otak mereka (sampai rambut mereka ubanan atau rontok atau gabungan keduanya) demi mencapai apa-apa yang telah mereka capai!”

Marilah kita, tanpa kecuali, berusaha berpikir, berkata dan berbuat atau berjuang sebaik-baiknya, sesuai bakat, kemampuan, fungsi dan kesempatan masing-masing. Kenali dan laksanakan kewajiban masing-masing secara optimal sebelum sok kuasa menuntut atau mewajibkan pihak lain melakukan kewajiban-kewajiban mereka. Kritiklah diri sendiri sebelum bersikap sok tahu mengkritik pihak lain. Puji dan hargailah karya-karya pihak lain sebelum sok aksi memuji dan mengingat-ingat jasa-jasa dan karya-karya diri kita sendiri atau kehebatan dan keagungan nenek moyang kita asendiri yang saat ini sudah berada di alam baka.

Iman, aman, amin!

Dikutip dari :

Kolom Mr. Joger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s