TUKANG

‘Siapa yang membangun tujuh gerbang Thebes?’

Bertholt Brecht bertanya, bersedih atas hilangnya

kuli-kuli dan tukang batu

dari lembar buku-buku sejarah.[1]

 

Tukang adalah unsur yang “hilang”.  Tak seorang pun bertanya, seperti Brecht, kemana mereka semua pergi setelah dinding-dinding itu berdiri, setelah arsitektur itu ada.

 

Mungkin karena mereka datang dalam gelombang himpunan. Himpunan tukang batu, himpunan tukang kayu, himpunan tukang listrik, tukang cat, tukang plafond, tukang AC, dan lain-lain. Dalam himpunan itu, individu “hilang” nama. Tiap anggota bisa digantikan oleh anggota lain, dengan kriteria yang sama. Tukang-tukang itu lalu menjadi sekedar angka. Grup tukang batu 10 orang. Grup tukang kayu 7 orang. Grup tukang listrik 4 orang. Dan seterusnya, dan seterusnya. Kita, para arsitek, hanya kenal mandor atau kepala tukang yang bertanggung jawab atas himpunan tersebut.

 

Mungkin juga karena kita hanya melihat hasil, bukan tangan-tangan yang bekerja menghasilkannya. Para arsitek akan dengan cermat memeriksa apakah pondasi satu bangunan kuat menanggung beban di atasnya. Tapi tukang-tukang batu akan terkubur bersama lajur-lajur dan pancang beton, jauh di bawah tanah. Dengan kritis kita mengamati detail pekerjaan kosen pintu beserta daunnya, dan menuntut penyelesaian yang sempurna tanpa cacat, sembari tak peduli bahwa di balik pelitur dan cat kayu ada keringat yang tersembunyi di antara urat dan retakan kayu.

Seperti industri lain dengan jutaan tenaga kerja, arsitektur dan konstruksi pada akhirnya memilih untuk abai pada satu-satu tukang yang terlibat dalam keseluruhan proyek. Ketakpedulian ini sering sekali berimbas pada keselamatan kerja, kesehatan, dan kesejahteraan tukang-tukang tersebut.

 

Bicara dari pengalaman pribadi, saya berani bilang bahwa sebuah proyek di Indonesia tak jauh beda dengan arena akrobat sebuah sirkus. Di gedung-gedung bertingkat yang belum jadi, kita akan melihat para tukang berjalan melalui titian dua bambu yang merentang di atas void setinggi dua lantai, tanpa pengaman apapun, sambil memanggul dua karung semen. Pada lain kesempatan, kita akan ternganga melihat para tukang listrik menyambung kabel-kabel tanpa lebih dulu memutus aliran arus, tanpa mengenakan sarung tangan dan sepatu karet. Saya sempat curiga, jangan-jangan para tukang ini telah menjelma spesies homo yang lain, karena mereka bisa dengan tenang menyemprotkan lapisan melamik yang berbahaya hanya dengan mengenakan masker seadanya yang mereka bikin dari sehelai saputangan, tanpa google pelindung mata.

 

Berapa banyak korban dari ketidakpedulian terhadap keselamatan kerja ini? Belum ada data yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak semua kecelakaan dilaporkan. Banyak yang akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Sejauh korban tersebut bisa digantikan dan proyek bisa berjalan tanpa hambatan yang berarti, kita akan cepat melewatkan insiden kecelakaan kerja tersebut. Sejarah telah mengajar kita untuk lupa pada banyak hal. Dalam setiap bangunan, tersembunyi sekian banyak orang yang selamanya tak tercatat.

 

Tapi saya ingin mengingat beberapa hal saja yang menyentuh perasaan saya pada proyek-proyek yang saya tangani dan membuat saya tak sanggup meng”hilang”kan para tukang begitu saja.

 

Seperti berbagai aroma yang merebak di proyek yang menandai waktu dalam satu hari. Jika kita sering berada di sana dari pagi sampai malam, kita akan tahu, ada bau tertentu yang akan tercium pada jam-jam tertentu. Tengah hari akan ditandai dengan bau ikan asin dan nasi yang tanak. Jika di sore hari tiba-tiba terhembus bau sabun wangi, kita akan tahu bahwa waktu telah menunjukkan pukul 4, saatnya para tukang berhenti bekerja dan mandi. Menjelang magrib, dari arah bedeng, biasanya akan tercium rebusan mie instan dan gorengan telur, yang menandai bahwa mereka siap makan malam. Para tukang adalah insan yang disiplin dalam waktu kerja dan kehidupan mereka.

 

Hal lain adalah ketika saya menemukan sebuah tulisan dengan kapur putih di dinding abu-abu: “Sekejam-kejam Ibu Kota, lebih kejam Mandor Bobok.” Kita yang terbiasa dengan klise, “Sekejam-kejam Ibu Tiri, lebih kejam Ibu Kota,” akan langsung tahu, bahwa di antara ketiganya, Mandor Bobok tentu yang paling dibenci. Kenapa?

 

Pekerjaan membobok adalah pekerjaan meniadakan hasil kerja. Dinding yang salah bangun harus dihancurkan untuk diganti dengan yang benar. Tapi jika kita mengira bahwa para tukang batu mendirikan dinding yang sederhana itu hanya sekedar untuk memenuhi tugasnya saja, kita salah. Para tukang itu ternyata memiliki kebanggaan pada hasil kerjanya. Tiap bata yang disusun adalah jerih yang butuh dihargai sebagai satu tahap dalam pembangunan. Bukan untuk dibongkar.

 

Dan jika kita mengira bahwa kreatifitas adalah monopoli para arsitek, kita salah. Sebelum arsitektur hijau menjadi isu besar, dan daur ulang menjadi salah satu strategi di dalamnya, saya sering terkejut melihat hasil kreasi tukang-tukang dalam memanfaatkan barang bekas di proyek. Dengan potongan-potongan kayu bekas bekisting, mereka bisa membuat pelbagai meja dan tempat tidur yang nyaman. Di waktu luangnya, pecahan-pecahan kaca bisa mereka susun menjadi tudung lampu yang artistik. Atau dengan sedikit modifikasi, kaleng-kaleng sisa cat bisa berubah menjadi bangku-bangku yang unik.

 

Tapi yang paling tak bisa saya lupakan adalah ketika suatu hari selepas magrib, saat saya akan pergi meninggalkan proyek, dari salah satu sudut di bawah tangga yang belum jadi, terdengar suara orang mengaji yang sangat syahdu. Di sana, seorang tukang, mungkin sekitar 50 tahun, duduk di atas tikar. Di depannya sebuah buku bertulisan arab terbuka. Bapak tua itu bersimpuh sambil melantunkan doa, tak peduli pada sekitarnya. Begitu khusyuk. Begitu penuh.

 

Saya tak tahu arti doanya. Juga tak tahu untuk siapa dia berdoa. Tapi dia mungkin bukan satu-satunya. Sejak itu saya selalu merasa, bahwa setiap proyek yang saya tangani, tidak hanya dibangun oleh uang para klien, perencanaan dan pelaksanaan yang baik, tapi juga doa para tukang. Dan meskipun bangunan itu sudah selesai, tukang-tukang itu masih akan “ada” di sana.

 

 

 

Avianti Armand

 

(Untuk U Mag – Edisi Terakhir)

 

 

 

[1] Tentang Ruang Dan Garis, Goenawan Mohamad, Indonesia – A Surprise.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s