Bangunan Bambu Khas Kampung yang Eksotik tapi tidak Kampungan

Aku
dan Bambu : Edisi Bangunan Bambu Khas Kampung yang Eksotik tapi tidak Kampungan

Mungkin
orang  mengira bambu itu hanya menjadi
rumah bilik yang biasa terdapat di kampung-kampung pedalaman Indonesia. Mereka
belum mengetahui jika bambu itu merupakan The
New Material yang akan menggantikan fungsi kayu, baja, besi, aluminium,
keramik, lantai, bata, gypsum, genteng dan lain sebagainya.

Jika
dilihat dari model bangunan bambu, Indonesia bisa dikatakan tertinggal jauh
dengan Negara-negara tetangga di ASIA dan Amerika Latin. Meskipun Indonesia
memiliki The Green School di Bali
yang digagas oleh John Hardy, tetap saja belum sebanding dengan potensi bambu Indonesia
yang memiliki 12% jenis bambu dunia. Sebut saja Vietnam dengan Trong Nghia’s Water and Wind Café karya
Arsitek Vo Trong Nghia atau Simon Velez Arsitek Bambu Kolombia dengan
bangunan-bangunan bambunya di Amerika latin seperti The Great Hall, Bridge for
Crosswaters Ecolodge dan lain sebagainya. 

Namun
kita boleh berbangga dengan arsitek-arsitek lokal seperti Budi faisal, Andry Widyowijatnoko,
Heru Markeso, Erfan, Pon S Purajatnika, Yu Sing dan Mukoddas Syuhada yang sudah
mulai mengembangkan konstruksi bambu tidak hanya ekspos strukturnya saja, tapi
menjadikan bambu sebagai material baru pengganti fungsi kayu, baja, besi,
aluminium, keramik, lantai, bata, gypsum, genteng dan lain sebagainya.

Untuk
atap, bambu bisa dijadikan penutup atap pengganti genteng seperti di
Panglipuran Bali. Sedangkan untuk rangka dan struktur atapnya sudah umum
digunakan di rumah-rumah kampung, termasuk tiang dan baloknya. Sedangkan dinding,
yang biasa disebut bilik bisa dimodifikasi dengan model anyaman ‘kwalik’ dan
palupuh. Bahkan bisa diplester dengan menggunakan kawat ram nyamuk. Jika digunakan
sebagai dinding kamar mandi, bisa dilapis keramik atau batu alam.

Sebagai
fungsi plafond dan lantai, bambu pecah yang biasa disebut ‘palupuh’ bisa
menggantikan gypsum dan keramik. Bahkan jenis bambu yang kecil seperti pringgodani
sangat eksotik jika dipasang sebagai plafond. Untuk fungsi bukaan pintu dan
jendela, potongan dan belahan bambu akan menambah nilai artistic bangunannya. Beberapa
penelitian yang dilakukan oleh Purwito dari Puskim Bandung, bambu juga bisa
digunakan sebagai tulangan beton pengganti besi, karena daya tarik bambu lebih
bagus dibanding besi.
Ke depan,
teknologi bambu Indonesia akan berkembang terus dimulai dengan bambu laminasi
yang bisa menjadi balok, reng, kaso, kusen, papan dan lantai parket. Lalu bambu
komposit untuk panel. Sehingga, dalam waktu yang tidak terlalu lama, bambu untuk
ketahanan papan Indonesia akan segera terwujud. Tapi tetap harus diingat slogan
kami “Berani Menebang, Harus Berani Menanam!”. Salam Bambu Nusantara.

dokumentasinya bisa dilihat di:

http://www.indonesianvillage.com/2013/07/27/aku-dan-bambu-edisi-bangunan-bambu-khas-kampung-yang-eksotik-tapi-tidak-kampungan/#sthash.fyNmWLlw. This message was sent using ShareThis (http://www.sharethis.com)
 
Di Kampung Kita Jaya…! 

twitter : @dAsalbantani
PejuangEcoVillage 
“My Country, My Village”
http://www.indonesianvillage.com
“Save our World with Design ‘n Technology”
new concept : UKe – Umah Kebon untuk Papan dan Pangan yang Berkelanjutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s